Tampilkan postingan dengan label the catank. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label the catank. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 April 2013

gus maksum

Tragedi Kanigoro, ketika pesantren diserang dan al Qur'an diinjak-injak oleh PKI KANIGORO (Arrahmah.com ) – Masih lekat di ingatan Masdoeqi Moeslim peristiwa di Pondok Pesantren Al-Jauhar di Desa Kanigoro, Kecamatan Kras, Kediri, pada 13 Januari 1965. Kala itu, jarum jam baru menunjukkan pukul 04.30. Ia dan 127 peserta pelatihan mental Pelajar Islam Indonesia (PII) sedang asyik membaca Al-Quran dan bersiap untuk salat subuh. Tiba-tiba sekitar seribu anggota PKI membawa berbagai senjata datang menyerbu. Sebagian massa PKI masuk masjid, mengambil Al-Quran dan memasukkannya ke karung. “Selanjutnya dilempar ke halaman masjid dan diinjak-injak,” kata Masdoeqi saat di rumahnya di Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, pekan lalu seperti dilansirtempo.co. Para peserta pelatihan digiring dan dikumpulkan di depan masjid. “Saya melihat semua panitia diikat dan ditempeli senjata,” tutur Masdoeqi, yang kala itu masuk kepanitiaan pelatihan. Dia menyaksikan massa PKI juga menyerang rumah Kiai Jauhari, pengasuh Pondok Pesantren Al-Jauhar dan adik ipar pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kiai Makhrus Aly. Ayah Gus Maksum itu diseret dan ditendang ke luar rumah.  Selanjutnya, massa PKI mengikat dan menggiring 98 orang, termasuk Kiai Jauhari, ke markas kepolisian Kras dan menyerahkannya kepada polisi. Menurut Masdoeqi, di sepanjang perjalanan, sekelompok anggota PKI itu mencaci maki dan mengancam akan membunuh. Mereka mengatakan ingin menuntut balas atas kematian kader PKI di Madiun dan Jombang yang tewas dibunuh anggota NU sebulan sebelumnya. Akhir 1964, memang terjadi pembunuhan atas sejumlah kader PKI di Madiun dan Jombang. “Utang Jombang dan Madiun dibayar di sini saja,” ujar Masdoeqi, menirukan teriakan salah satu anggota PKI yang menggiringnya.  Kejadian itu dikenal sebagai Tragedi Kanigoro pertama kalinya PKI melakukan penyerangan besar-besaran di Kediri. Sebelumnya, meski hubungan kelompok santri dan PKI tegang, tak pernah ada konflik terbuka.  Meski tak sampai ada korban jiwa, penyerbuan di Kanigoro menimbulkan trauma sekaligus kemarahan kalangan pesantren dan anggota Ansor Kediri, yang sebagian besar santri pesantren. Memang kala itu para santri belum bergerak membalas. Namun, seperti api dalam sekam, ketegangan antara PKI dan santri makin membara.  Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kiai Idris Marzuki, mengakui atmosfer permusuhan antara santri dan PKI telah berlangsung jauh sebelum pembantaian. “Bila berpapasan, kami saling melotot dan menggertak,” katanya. Kubu NU dan PKI juga sering unjuk kekuatan dalam setiap kegiatan publik. Misalnya ketika pawai memperingati Hari Kemerdekaan 17 Agustus, rombongan PKI dan rombongan NU saling ejek bahkan sampai melibatkan simpatisan kedua kelompok. Kondisi itu semakin diperparah oleh penyerbuan PKI ke Kanigoro. Peristiwa di Kanigoro itu pula yang memperkuat tekad kaum pesantren dan anggota Ansor di Kediri, termasuk Abdul, menyerang anggota PKI. Pembantaian mencapai puncaknya ketika pemerintah mengumumkan bahwa PKI adalah organisasi terlarang. Abdul dan para anggota Ansor lainnya semakin yakin bahwa perbuatan mereka benar. “Seperti api yang disiram bensin, kami semakin mendapat angin untuk memusnahkan PKI,” ujarnya.

mbah wasil setono gedong

Kota Kediri tak hanya dikenal sebagai kota tahu tetapi juga dikenal sebagai kota religi atau kota santri. Banyak pondok peantren yang tersebar di wilayah Kediri baik  yang kecil yang santrinya hanya ratusan maupun yang besar yang santrinya mencapai ribuan. Beberapa diantaranya sudah terkenal se-antero Indonesia seperti Ponpes Hidayatul Mubtadiin atau yang dikenal dengan Ponpes Lirboyo,  Kemudian ada lagi, di Kota Kediri juga terdapat tempat wisata religi yang terletak di jalan Dhoho yaitu makam Syeh Sulaiman Syamsudin al-Wasil atau Syeh Ali Syamsu Zain yang dikabarkan sebagai Waliyullah, yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Wasil. Banyak yang tidak menyangka kalau di tengah pusat perbelanjaan tersebut terdapat makam yang menjadi salah satu wisata religi terkenal. Letaknya di tengah pemakaman umum lingkungan Setono Gedong di belakang Masjid Aulia. Tidak sulit untuk menuju ke lokasi makam karena cukup dengan berjalan kaki sekitar 100 meter ke arah barat melalui gang yang cukup lebar di tengah Jl. Dhoho.   Makam Mbah Wasil sealu ramai dikunjungi peziarah terutama pada malam Jumat, lebih lebih pada BulanRamadhan ini. Bukan hanya dari wilayah Kediri Raya, para peziarah juga banyak yang berasal dari luar daerah bahkan dari luar Jawa dan luar negeri. Mereka datang untuk berdoa, membaca tahlil, membaca Al-Quran dan ada juga yang hanya sekedar ingin tahu. Tujuannya pun beragam ada yang ingin mencari berkah, ada yang karena punya hajad seperti buka usaha baru, mau ujian, berdoa agar segera bertemu jodohnya, ada yang ingin rejekinya lancar dan ada juga yang berdoa agar diijinkan istrinya untuk menikah lagi.   Tetapi ada yang menarik, unik sekaligus janggal. Mayoritas peziarah ternyata belum mengenal siapa yang mereka ziarahi. Belum tahu asal usulnya, keturunan dan sejarahnya.  Apakah Mbah Wasil keturunan Nabi  Sulaiman, atau Nabi Ibrahim, atau juga apakah beliau penerus Syeh Abdul Qodir Jaelani juga tidak ada yang bisa memastikan. Mereka hanya mengenal nama Mbah Wasil melalui cerita dari mulut ke mulut. Bahkan toko buku dan aksesoris di area Masjid Setono Gedong tidak menjual buku biografi Mbah Wasil. Kata pemilik toko, buku tentang Mbah Wasil belum ada karena memang tidak ada yang berani menuliskannya.   Tetapi wajar banyak yang tidak tahu, karena memang sangat minim sumber pustaka atau literatur yang menerangkan jati diri Mbah Wasil. Bahkan beberapa ahli sejarah sangat terbatas untuk bisa menerangkan biografi beliau secara detail. Hanya sedikit sumber dan dugaan berdasar analisa sejarah dan arsitektur serta anatomi bangunan makam.   Paling tidak ada dua versi tentang sejarah dan asal usul Mbah Wasil, ada yang bilang beliau hidup di abad XI berarti sebelum wali songo dan ada yang menyebutkan beliau hidup di abad ke XIV di jaman walisongo. Menurut penjelasan Yusuf, juru kunci makam Mbah Wasil, Syeh Sulaiman Al-Wasil adalah utusan dari Istambul Turki pada abad ke XIV. Beliau diutus ke pulau Jawa untuk bertemu dengan walisongo guna membantu menyebarkan agama Islam pada masyarakat.   Dalam versi ini selain menyebarkan agama Islam, Mbah Wasil dan para sunan juga berencana membangun masjid agung yang dijadikan pusat penyebaran agama Islam di Kediri. Pembangunan masjid dimulai dari pembangunan pondasi di atas susunan batu di bagian bawah yang berwarna kekuningan di kompleks makam Setono Gedong. Tetapi menurut sumber lain susunan batu tersebut merupakan pondasi sebuah candi dari jaman Kerajaan Kadiri, sedangkan yang dibagian atasnya merupakan susunan batu yang belum selesai ditata.   Karena pembangunan masjid terhenti akhirnya material yang rencananya digunakan untuk membangun masjid itupun dibawa kembali oleh para wali untuk menyelesaikan pembangunan Masjid Demak dan Masjid Cirebon. Area di atas pondasi itu sempat difungsikan sebagai sarana prasarana ibadah, dan tempat pertemuan para wali waktu di Kediri. Pondasi tersebut sempat rusak parah namun kembali ditata oleh masyarakat hingga akhirnya bisa digunakan kembali sampai sekarang.   Tetapi catatan bahwa mbah Wasil hidup pada abad XIV di masa walisongo sangat diragukan. Mayoritas ahli sejarah lebih condong bahwa beliau hidup pada abad XI dimana Syeh Sulaiman Syamsudin atau Syeh Ali Syamsu Zein ini adalah guru dari Raja Kadiri Sri Aji Jayabaya. Beliau berasal dari Negeri Persia datang ke tanah Jawa untuk menyebarkan ajaran Islam. Ini tercantum dalam serat Jangka Jayabaya. Dikabarkan bahwa Mbah Wasil adalah guru spiritual Jayabaya bahkan konon ia adalah tokoh yang mempunyai andil besar dalam ramalan Jayabaya.   Mbah Wasil juga dikabarkan mempunyai empat pengikut setia dari Persia yang selalu menemaninya menyebarkan agama Islam. Keempat orang itu juga dimakamkan di kompleks pemakaman Setono Gedong di dekat makam Mbah Wasil.   Sementara itu juga tidak diketahui kapan Mbah Wasil meninggal karena di nisan makam Mbah Wasil tidak tertulis nama, tanggal, tahun dan keterangan lainnya yang menunjukkan waktu beliau meninggal. Di nisan hanya tertulis kalimat Syahadat yang mengartikan bahwa mbah Wasil adalah orang Islam yang ditokohkan dan dihormati masyarakat sekitar sebagai penyebar agama Islam.   Makam Mbah Wasil sebelum tahun 2003 belum masuk ke dalam rangkaian wisata religi di Jawa. Meski begitu makam Mbah Wasil sudah ramai dikunjungi peziarah yang mengetahui keberadaan makam tersebut dari mulut ke mulut. Tahun 2003 makam Mbah Wasil dipugar dan selanjutnya tahun 2007 dibuka menjadi tempat wisata religi pada masa pemerintahan walikota H.A Maschut.   Sampai sekarang makam Mbah Wasil ramai dikunjungi peziarah perempuan maupun laki laki terutama pada bulan Ramadhan. Yang berziarahpun beragam ada yang pakai sarung ada yang bercelana ada yang pakai kopyah dan ada yang gondrong. Perilaku sebagian dari merekapun kadang unik dan aneh. Ada yang sengaja tidur di area makam menginap beberapa hari sambil menjalankan ritual wiridan, memegang tasbih,  mulut komat kamit entah apa yang dibaca. Banyak juga peziarah yang datang untuk menyelesaikan hafalan Al Qur’an.   Ridwan, salah satu peziarah dari Surabaya yang sudah 2 hari menginap di makam Mbah Wasil mengaku sengaja datang untuk memohon berkah dengan lantaran karomah Syeh Wasil. Situasi serta tempat yang teduh dan tenang membuatnya betah menginap di area makam Syeh Wasil sambil tadarus Al Qur’an hingga 30 juz.   Tetapi siapakah beliau, darimana dan keturunan siapa itu tidak pokok. Yang jelas kemasyhuran namanya, aura karomah kewaliannya, energi barokah yang diradiasikan mampu mengikat dan menarik banyak Muslim untuk datang berdoa dan melantunkan ayat ayat Allah. Ini menunjukkan beliau adalah tokoh yang agung dan dekat dengan sang pencipta. Semoga keberadaan makam Syeh Sulaiman Syamsudin Al-Wasil atau Syeh Ali Syamsu Zain ini bisa memancarkan cahaya ketenangan, kedamaian, keamanan dan kemakmuran khususnya di Kota Kediri termasuk bagi mereka yang rutin berziarah dan mendoakannya.(Kurnia)