Kamis, 04 April 2013

persepsi masyarakat tentang ponpes


Persepsi masyarakat tentang pondok pesantren memang kurang.mereka kurang tau apa dan bagaimana sesungguhnya pondok pesantren itu.mereka beranggapan bahwa ponpes itu tempat mengaji ا ب ت saja.hal itu salah besar.yang namanya mengaji itu attinya menuntut ilmu.jdi dlm ponpes itu intinya mempelajari ilmu.terutama kitab yg tk asing lgi dg sebutan kitab kuning.nah dlm berbagai kitab kuning sendiri bermacam2 jurusan ilmunya.misal tentang ilmu bahasa,sastra,pengobatan,syair puisi,politk,administrasi,ilmu kejiwaan dsb.hal ini terbukti banyak budayawan yg berasal dari ponpes.seperti penyair yg di kagumi iwan fals.yg tak lain adalah gusmus.beliau mendalami ilmunya dari ponpes sehingga menjadi budayawan terkenal mengalahkan alumni2 bahasa sastra.
Dan taksedikit pula yg mengatakan "mondok kwi gae opo?ora knek ge golek kerjo"seperti yg saya alami waktu mau kepondok pesantren.smua orang hampir sama pendapatnya.tpi alhamdulillah,sampe sekarang saya bisa bekerja.bahkan ada teman yg dlm usaha masih kalah dg saya.pdhl mereka punya ijasah smu bahkan sarjana.sedang saya tk ada ijasah.selain saya,lebih banyak lagi alumnus ponpes yg lebih berhasil dlm usaha.nah ini membuktikan bahwa ponpes tk bisa d anggap remeh.cuma kelemahan ponpes tak ada ijasah formal.
Dlm ponpes memang tk di ajar untuk bekerja.akan tetapi di ajar bagaimana cara kita bekerja.kita di ajar bagaimana cara kita mencari ilmu.bukan di ajar bagamana cara mencari ijasah semu/palsu seperti yg terjdi pd anak2sekolah.
Sekolah pinter gak pinter iku gak penting.seng penting piye carane amrih nilai ijasahe apik.
Nah sedikit ulasan dari saya tentang ponpes.bila ada kekurangan dlm berbagai hal,terutama kata dlm menyusun kalimat,mohon maaf.karna saya hanyalah lulusan smp.bukan smu ataupun sarjana.

Rabu, 03 April 2013

WIRID media ritual alami

Berdzikir adalah anjuran Nabi untuk menjadikan hidup kita ayem tentrem hati dan fikiran, Berdzikir juga sangat baik untuk kesehatan, karena apa? langsung aja kita bahas dibawah :
*
*Rahasia La Ilaha Illallah dan Astagfirullah untuk menghilangkan nyeri serta menumbuhkan ketenangan dan kestabilan *saraf
*. 

Sungguh, dengan mengingat Allah, hati akan tenang, "Ingatlah AKU, niscara AKU mengingatmu".

Lantunan wirid dzikir dan doa tidak hanya terbang menembus langit tetapi juga mengalirkan kebaikan pada seluruh bagian tubuh. Berbagai penelitian mutakhir menemukan bahwa gelombang suara sangat berpengaruh pada proses penyembuhan. 

Mulai dari ilmuwan Han Jenny (1960), yang mengungkap pengaruh gelombang suara terhadap bentuk dan material sel hingga Fabien dan Grimal (1974) yang membuktikan bahwa bacaan ayat-ayat AL Quran mampu menghancurkan sel *kanker
*setahap dei setahap.

Buku ini mengulas hubungan erat antara zikir dan bacaan-bacaan berdimensi Ilahi dengan proses penyembuhan kerusakan jaringan saraf menurut ilmu kedokteran saraf dan ilmu tajwid. 

Seluruh organ tubuh tidak akan berfungsi baik bila jaringan saraf mengalami kerusakan. Lewat penelusuran ilmiah dan praktek bertahun-tahun sebagai dokter, penulis mengungkap efek penyembuhan zikir bagian-bagian tubuh yang rusak dan mengalami gangguan, keajaiban zikir terhadap*kesehatan
* serta penyembuhan penyakit saraf yang sering diderita pasien, seperti nyeri (nyeri kepala tipe tegang, migren, fibromialgia, nyeri sendi, nyeri neuropati akibat kencing manis kronis, nyeri pinggang akibat iritasi akar saraf atau saraf terjepit), lumpuh karena stroke, depresi pascastroke, gangguan pikiran dan emosi serta gangguan tidur *(insomnia)

Selasa, 02 April 2013

KUCING

Kisah Kucing Kesayangan Nab SAW, dan Keistimewaan Kucing Dalam IslamDidalam perkembangan peradaban islam, kucing hadir sebagai teman sejati dalam setiap nafas dan gerak geliat perkembangan islam. https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg8nNUrGM-KEDR0M0M4BtHF4IDWiEGLbpeMdDjdzgEI_z_t-603yF3il1meIx9qGqMm00P3_VZXXdlpaj2dJNx6kADj5kvTt14P38miq1NLGyOpjoJvPtAa5xnGl-Yn5H38bspFFVwiz1Kw/s1600/cat.jpgDiceritakan dalam suatu kisah, Nabi Muhammad SAW memiliki seekor kucing yang diberi nama Mueeza. Suatu saat, dikala nabi hendak mengambil jubahnya, di temuinya Mueeza sedang terlelap tidur dengan santai diatas jubahnya. Tak ingin mengganggu hewan kesayangannya itu, nabi pun memotong belahan lengan yang ditiduri Mueeza dari jubahnya. Ketika Nabi kembali ke rumah, Muezza terbangun dan merunduk sujud kepada majikannya. Sebagai balasan, nabi menyatakan kasih sayangnya dengan mengelus lembut ke badan mungil kucing itu sebanyak 3 kali. Dalam aktivitas lain, setiap kali Nabi menerima tamu di rumahnya, nabi selalu menggendong mueeza dan di taruh dipahanya. Salah satu sifat Mueeza yang nabi sukai ialah ia selalu mengeong ketika mendengar azan, dan seolah-olah suaranya terdengar seperti mengikuti lantunan suara adzan. Kepada para sahabatnya, nabi berpesan untuk menyayangi kucing peliharaan, layaknya menyanyangi keluarga sendiri. Hukuman bagi mereka yang menyakiti hewan lucu ini sangatlah serius, dalam sebuah hadist shahih Al Bukhori, dikisahkan tentang seorang wanittidak pernah memberi makan kucingnya, dan tidak pula melepas kucingnya untuk mencari makan sendiri, Nabi SAW pun menjelaskan bahwa hukuman bagi wanita ini adalah siksa neraka. Tak hanya nabi, istri nabi sendiri, Aisyah binti Abu Bakar Ash Shiddiq pun amat menyukai kucing, dan merasa amat kehilangan dikala ditinggal pergi oleh si kucing. Seorang sahabat yang juga ahli hadist, Abdurrahman bin Sakhr Al Azdi diberi julukan Abu Hurairah (bapak para kucing jantan), karena kegemarannya dalam merawat dan memelihara berbagai kucing jantan dirumahnya. *Penghormatan para tokoh islam terhadap kucing pasca wafatnya Nabi SAW.* Dalam buku yang berjudul Cats of Cairo, pada masa dinasti mamluk, baybars al zahir, seorang sultan yang juga pahlawan garis depan dalam perang salib sengaja membangun taman-taman khusus bagi kucing dan menyediakan berbagai jenis makanan didalamnya. Tradisi ini telah menjadi adat istiadat di berbagai kota-kota besar negara islam. Hingga saat ini, mulai dari damaskus, istanbul hingga kairo, masih bisa kita jumpai kucing-kucing yang berkeliaran di pojok-pojok masjid tua dengan berbagai macam makanan yang disediakan oleh penduduk setempat. *Pengaruh Kucing dalam Seni Islam.* Pada abad 13, sebagai manifestasi penghargaan masyarakat islam, rupa kucing dijadikan sebagai ukiran cincin para khalifah, termasuk porselen, patung hingga mata uang. Bahkan di dunia sastra, para penyair tak ragu untuk membuat syair bagi kucing peliharaannya yang telah berjasa melindungi buku-buku mereka dari gigitan tikus dan serangga lainnya. *Kucing yang memberi inspirasi bagi para sufi.* Seorang Sufi ternama bernama ibnu bashad yang hidup pada abad ke sepuluh bercerita, suatu saat ia dan sahabat-sahabatnya sedang duduk santai melepas lelah di atas atap masjid kota kairo sambil menikmati makan malam. Ketika seekor kucing melewatinya, Ibnu Bashad memberi sepotong daging kepada kucing itu, namun tak lama kemudian kucing itu balik lagi, setelah memberinya potongan yang ke dua, diam-diam Ibnu Bashad mengikuti kearah kucing itu pergi, hingga akhirnya ia sampai disebuah atap rumah kumuh, dan didapatinya si kucing tadi sedang menyodorkan sepotong daging yang diberikan Ibnu Bashad kepada kucing lain yang buta kedua matanya. Peristiwa ini sangat menyentuh hatinya hingga ia menjadi seorang sufi sampai ajal menjemputnya pada tahun 1067. Selain itu, kaum sufi juga percaya, bahwa dengkuran nafas kucing memiliki irama yang sama dengan dzikir kalimah Allah.* * *Cerita yang dijadikan sebagai sauri tauladan* Salah satu cerita yang cukup mahsyur yaitu tentang seekor kucing peliharaan yang dipercaya oleh seorang pria, untuk menjaga anaknya yang masih bayi dikala ia pergi selama beberapa saat. Bagaikan prajurit yang mengawal tuannya, kucing itu tak hentinya berjaga di sekitar sang bayi. Tak lama kemudian melintaslah ular berbisa yang sangat berbahaya di dekat si bayi mungil tersebut. Kucing itu dengan sigapnya menyerang ular itu hingga mati dengan darah yang berceceran. Sorenya ketika si pria pulang, ia kaget melihat begitu banyak darah di kasur bayinya. Prasangkanya berbisik, si kucing telah membunuh anak kesayangannya! Tak ayal lagi, ia mengambil pisau dan memenggal leher kucing yang tak berdosa itu. Tak lama kemudian, ia kaget begitu melihat anaknya terbangun, dengan bangkai ular yang telah tercabik di belakang punggung anaknya. melihat itu, si pria menangis dan menyesali perbuatannya setelah menyadari bahwa ia telah mebunuh kucing peliharaannya yang telah bertaruh nyawa menjaga keselamatan anaknya. Kisah ini menjadi refleksi bagi masyarakat islam di timur tengah untuk tidak berburuk sangka kepada siapapun. *Hukum membunuh kucing* Tahukah agan Nabi Muhammad saw juga membela kucing?Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra.:""Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Seorang wanita disiksa karena mengurung seekor kucing sampai mati. Kemudian wanita itu masuk neraka karenanya, yaitu karena ketika mengurungnya ia tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum sebagaimana ia tidak juga melepasnya mencari makan dari serangga-serangga tanah. "(Shahih Muslim No.4160)"dan Dalam syariat Islam, seorang muslim diperintahkan untuk tidak menyakiti atau bahkan membunuh kucing, berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari kisah Abdullah bin Umar[1] dan Abu Hurairah.[2] *Adakah manfaat kucing bagi dunia ilmu pengetahuan?* Salah satu kitab terkenal yang ditulis oleh cendikia muslim tempo dulu adalah kitab hayat al hayaawan yang telah menjadi inspirasi bagi perkembangan dunia zoologi saat ini. Salah satu isinya mengenai ilmu medis, banyak para dokter muslim tempo dulu yang menjadikan kucing sebagai terapi medis untuk penyembuhan tulang, melalui dengkuran suaranya yang setara dengan gelombang sebesar 50 hertz. Dengkuran tersebut menjadi frekuensi optimal dalam menstimulasi pemulihan tulang. Tak hanya ilmu pengetahuan, bangsa barat juga banyak membawa berbagai jenis kucing dari timur tengah, hingga akhirnya kepunahan kucing akibat mitos alat sihir di barat dapat terselamatkan. *Kucing "Muqawwamah": Kucing Palestina yang Dipenjara di Sel Khusus Israel* Jika boleh iri, kaum muslimin mungkin harus iri kepada kucing Palestina. Pasalnya, ditengah ketidakmampuan kita ikut membela saudara-saudara kita di Palestina yang kini sedang berjuang mempertahankan Masjidil Aqsha dari ancaman israel, justru seekor kucing tampil sebagai pahlawan. Kucing itu dinilai zionis-israel dapat membangkitkan perlawanan (muqawwamah). Sebagaimana dikutip situs www.maannews.net, zionis-israel telah memenjarakan seekor kucing Palestina. Kucing ini dinilai menjadi penghubung di sel isolasi di kamp tahanan pejuang-pejuang Palestina di Negev.Menurut pejabat israel, kucing tersebut membantu para tahanan dengan membawa barang-barang ringan seperti surat, roti dan lainnya dari satu sel ke sel lain. Peran itu dimainkan si kucing selama berbulan-bulan, sebelum akhirnya ketahuan. Penjaga penjara Negev lalu menjebloskan kucing itu ke dalam sel khusus. Nah, siapa bersedia menjenguk kucing yang pintar ini? Adakah kira-kira pengacara dermawan yang akan membelanya?

gus maksum

Tragedi Kanigoro, ketika pesantren diserang dan al Qur'an diinjak-injak oleh PKI KANIGORO (Arrahmah.com ) – Masih lekat di ingatan Masdoeqi Moeslim peristiwa di Pondok Pesantren Al-Jauhar di Desa Kanigoro, Kecamatan Kras, Kediri, pada 13 Januari 1965. Kala itu, jarum jam baru menunjukkan pukul 04.30. Ia dan 127 peserta pelatihan mental Pelajar Islam Indonesia (PII) sedang asyik membaca Al-Quran dan bersiap untuk salat subuh. Tiba-tiba sekitar seribu anggota PKI membawa berbagai senjata datang menyerbu. Sebagian massa PKI masuk masjid, mengambil Al-Quran dan memasukkannya ke karung. “Selanjutnya dilempar ke halaman masjid dan diinjak-injak,” kata Masdoeqi saat di rumahnya di Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, pekan lalu seperti dilansirtempo.co. Para peserta pelatihan digiring dan dikumpulkan di depan masjid. “Saya melihat semua panitia diikat dan ditempeli senjata,” tutur Masdoeqi, yang kala itu masuk kepanitiaan pelatihan. Dia menyaksikan massa PKI juga menyerang rumah Kiai Jauhari, pengasuh Pondok Pesantren Al-Jauhar dan adik ipar pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kiai Makhrus Aly. Ayah Gus Maksum itu diseret dan ditendang ke luar rumah.  Selanjutnya, massa PKI mengikat dan menggiring 98 orang, termasuk Kiai Jauhari, ke markas kepolisian Kras dan menyerahkannya kepada polisi. Menurut Masdoeqi, di sepanjang perjalanan, sekelompok anggota PKI itu mencaci maki dan mengancam akan membunuh. Mereka mengatakan ingin menuntut balas atas kematian kader PKI di Madiun dan Jombang yang tewas dibunuh anggota NU sebulan sebelumnya. Akhir 1964, memang terjadi pembunuhan atas sejumlah kader PKI di Madiun dan Jombang. “Utang Jombang dan Madiun dibayar di sini saja,” ujar Masdoeqi, menirukan teriakan salah satu anggota PKI yang menggiringnya.  Kejadian itu dikenal sebagai Tragedi Kanigoro pertama kalinya PKI melakukan penyerangan besar-besaran di Kediri. Sebelumnya, meski hubungan kelompok santri dan PKI tegang, tak pernah ada konflik terbuka.  Meski tak sampai ada korban jiwa, penyerbuan di Kanigoro menimbulkan trauma sekaligus kemarahan kalangan pesantren dan anggota Ansor Kediri, yang sebagian besar santri pesantren. Memang kala itu para santri belum bergerak membalas. Namun, seperti api dalam sekam, ketegangan antara PKI dan santri makin membara.  Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kiai Idris Marzuki, mengakui atmosfer permusuhan antara santri dan PKI telah berlangsung jauh sebelum pembantaian. “Bila berpapasan, kami saling melotot dan menggertak,” katanya. Kubu NU dan PKI juga sering unjuk kekuatan dalam setiap kegiatan publik. Misalnya ketika pawai memperingati Hari Kemerdekaan 17 Agustus, rombongan PKI dan rombongan NU saling ejek bahkan sampai melibatkan simpatisan kedua kelompok. Kondisi itu semakin diperparah oleh penyerbuan PKI ke Kanigoro. Peristiwa di Kanigoro itu pula yang memperkuat tekad kaum pesantren dan anggota Ansor di Kediri, termasuk Abdul, menyerang anggota PKI. Pembantaian mencapai puncaknya ketika pemerintah mengumumkan bahwa PKI adalah organisasi terlarang. Abdul dan para anggota Ansor lainnya semakin yakin bahwa perbuatan mereka benar. “Seperti api yang disiram bensin, kami semakin mendapat angin untuk memusnahkan PKI,” ujarnya.

mbah wasil setono gedong

Kota Kediri tak hanya dikenal sebagai kota tahu tetapi juga dikenal sebagai kota religi atau kota santri. Banyak pondok peantren yang tersebar di wilayah Kediri baik  yang kecil yang santrinya hanya ratusan maupun yang besar yang santrinya mencapai ribuan. Beberapa diantaranya sudah terkenal se-antero Indonesia seperti Ponpes Hidayatul Mubtadiin atau yang dikenal dengan Ponpes Lirboyo,  Kemudian ada lagi, di Kota Kediri juga terdapat tempat wisata religi yang terletak di jalan Dhoho yaitu makam Syeh Sulaiman Syamsudin al-Wasil atau Syeh Ali Syamsu Zain yang dikabarkan sebagai Waliyullah, yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Wasil. Banyak yang tidak menyangka kalau di tengah pusat perbelanjaan tersebut terdapat makam yang menjadi salah satu wisata religi terkenal. Letaknya di tengah pemakaman umum lingkungan Setono Gedong di belakang Masjid Aulia. Tidak sulit untuk menuju ke lokasi makam karena cukup dengan berjalan kaki sekitar 100 meter ke arah barat melalui gang yang cukup lebar di tengah Jl. Dhoho.   Makam Mbah Wasil sealu ramai dikunjungi peziarah terutama pada malam Jumat, lebih lebih pada BulanRamadhan ini. Bukan hanya dari wilayah Kediri Raya, para peziarah juga banyak yang berasal dari luar daerah bahkan dari luar Jawa dan luar negeri. Mereka datang untuk berdoa, membaca tahlil, membaca Al-Quran dan ada juga yang hanya sekedar ingin tahu. Tujuannya pun beragam ada yang ingin mencari berkah, ada yang karena punya hajad seperti buka usaha baru, mau ujian, berdoa agar segera bertemu jodohnya, ada yang ingin rejekinya lancar dan ada juga yang berdoa agar diijinkan istrinya untuk menikah lagi.   Tetapi ada yang menarik, unik sekaligus janggal. Mayoritas peziarah ternyata belum mengenal siapa yang mereka ziarahi. Belum tahu asal usulnya, keturunan dan sejarahnya.  Apakah Mbah Wasil keturunan Nabi  Sulaiman, atau Nabi Ibrahim, atau juga apakah beliau penerus Syeh Abdul Qodir Jaelani juga tidak ada yang bisa memastikan. Mereka hanya mengenal nama Mbah Wasil melalui cerita dari mulut ke mulut. Bahkan toko buku dan aksesoris di area Masjid Setono Gedong tidak menjual buku biografi Mbah Wasil. Kata pemilik toko, buku tentang Mbah Wasil belum ada karena memang tidak ada yang berani menuliskannya.   Tetapi wajar banyak yang tidak tahu, karena memang sangat minim sumber pustaka atau literatur yang menerangkan jati diri Mbah Wasil. Bahkan beberapa ahli sejarah sangat terbatas untuk bisa menerangkan biografi beliau secara detail. Hanya sedikit sumber dan dugaan berdasar analisa sejarah dan arsitektur serta anatomi bangunan makam.   Paling tidak ada dua versi tentang sejarah dan asal usul Mbah Wasil, ada yang bilang beliau hidup di abad XI berarti sebelum wali songo dan ada yang menyebutkan beliau hidup di abad ke XIV di jaman walisongo. Menurut penjelasan Yusuf, juru kunci makam Mbah Wasil, Syeh Sulaiman Al-Wasil adalah utusan dari Istambul Turki pada abad ke XIV. Beliau diutus ke pulau Jawa untuk bertemu dengan walisongo guna membantu menyebarkan agama Islam pada masyarakat.   Dalam versi ini selain menyebarkan agama Islam, Mbah Wasil dan para sunan juga berencana membangun masjid agung yang dijadikan pusat penyebaran agama Islam di Kediri. Pembangunan masjid dimulai dari pembangunan pondasi di atas susunan batu di bagian bawah yang berwarna kekuningan di kompleks makam Setono Gedong. Tetapi menurut sumber lain susunan batu tersebut merupakan pondasi sebuah candi dari jaman Kerajaan Kadiri, sedangkan yang dibagian atasnya merupakan susunan batu yang belum selesai ditata.   Karena pembangunan masjid terhenti akhirnya material yang rencananya digunakan untuk membangun masjid itupun dibawa kembali oleh para wali untuk menyelesaikan pembangunan Masjid Demak dan Masjid Cirebon. Area di atas pondasi itu sempat difungsikan sebagai sarana prasarana ibadah, dan tempat pertemuan para wali waktu di Kediri. Pondasi tersebut sempat rusak parah namun kembali ditata oleh masyarakat hingga akhirnya bisa digunakan kembali sampai sekarang.   Tetapi catatan bahwa mbah Wasil hidup pada abad XIV di masa walisongo sangat diragukan. Mayoritas ahli sejarah lebih condong bahwa beliau hidup pada abad XI dimana Syeh Sulaiman Syamsudin atau Syeh Ali Syamsu Zein ini adalah guru dari Raja Kadiri Sri Aji Jayabaya. Beliau berasal dari Negeri Persia datang ke tanah Jawa untuk menyebarkan ajaran Islam. Ini tercantum dalam serat Jangka Jayabaya. Dikabarkan bahwa Mbah Wasil adalah guru spiritual Jayabaya bahkan konon ia adalah tokoh yang mempunyai andil besar dalam ramalan Jayabaya.   Mbah Wasil juga dikabarkan mempunyai empat pengikut setia dari Persia yang selalu menemaninya menyebarkan agama Islam. Keempat orang itu juga dimakamkan di kompleks pemakaman Setono Gedong di dekat makam Mbah Wasil.   Sementara itu juga tidak diketahui kapan Mbah Wasil meninggal karena di nisan makam Mbah Wasil tidak tertulis nama, tanggal, tahun dan keterangan lainnya yang menunjukkan waktu beliau meninggal. Di nisan hanya tertulis kalimat Syahadat yang mengartikan bahwa mbah Wasil adalah orang Islam yang ditokohkan dan dihormati masyarakat sekitar sebagai penyebar agama Islam.   Makam Mbah Wasil sebelum tahun 2003 belum masuk ke dalam rangkaian wisata religi di Jawa. Meski begitu makam Mbah Wasil sudah ramai dikunjungi peziarah yang mengetahui keberadaan makam tersebut dari mulut ke mulut. Tahun 2003 makam Mbah Wasil dipugar dan selanjutnya tahun 2007 dibuka menjadi tempat wisata religi pada masa pemerintahan walikota H.A Maschut.   Sampai sekarang makam Mbah Wasil ramai dikunjungi peziarah perempuan maupun laki laki terutama pada bulan Ramadhan. Yang berziarahpun beragam ada yang pakai sarung ada yang bercelana ada yang pakai kopyah dan ada yang gondrong. Perilaku sebagian dari merekapun kadang unik dan aneh. Ada yang sengaja tidur di area makam menginap beberapa hari sambil menjalankan ritual wiridan, memegang tasbih,  mulut komat kamit entah apa yang dibaca. Banyak juga peziarah yang datang untuk menyelesaikan hafalan Al Qur’an.   Ridwan, salah satu peziarah dari Surabaya yang sudah 2 hari menginap di makam Mbah Wasil mengaku sengaja datang untuk memohon berkah dengan lantaran karomah Syeh Wasil. Situasi serta tempat yang teduh dan tenang membuatnya betah menginap di area makam Syeh Wasil sambil tadarus Al Qur’an hingga 30 juz.   Tetapi siapakah beliau, darimana dan keturunan siapa itu tidak pokok. Yang jelas kemasyhuran namanya, aura karomah kewaliannya, energi barokah yang diradiasikan mampu mengikat dan menarik banyak Muslim untuk datang berdoa dan melantunkan ayat ayat Allah. Ini menunjukkan beliau adalah tokoh yang agung dan dekat dengan sang pencipta. Semoga keberadaan makam Syeh Sulaiman Syamsudin Al-Wasil atau Syeh Ali Syamsu Zain ini bisa memancarkan cahaya ketenangan, kedamaian, keamanan dan kemakmuran khususnya di Kota Kediri termasuk bagi mereka yang rutin berziarah dan mendoakannya.(Kurnia)